Senin, 01 Oktober 2012

Kebudayaan Betawi


Kata Betawi digunakan untuk menyatakan suku asli yang menghuni Jakarta dan bahasa Melayu Kreol yang digunakannya, dan juga kebudayaan Melayunya. Kata Betawi berasal dari kata "Batavia," yaitu nama lain dari Jakarta pada masa Hindia Belanda, kemudian penggunaan kata Betawi sebagai sebuah suku yang termuda, diawali dengan pendirian sebuah organisasi yang bernama Perkoempoelan Kaoem Betawi yang lahir pada tahun 1923. Budaya terbentuk dari beberapa unsur termasuk di dalamnya yaitu bahasa, sistem kepercayaan, adat istiadat, kuliner, pakaian, bangunan, dan karya seni (Pradipta, 2004:36)
Menurut Ruchiat dan Singgih (2003:23-26), dalam kehidupan etnik Betawi terdapat berbagai macam kebudayaan dan tradisi antara lain.
a.      Tradisi pada Prosesi Pernikahan Adat Betawi
1.        Bawaan Pengantin Pria
Sirih lamaran, maket masjid kekudung, mahar (mas kawin), pesalinan dan petise merupakan bawaan wajib mempelai pria untuk mempelai wanita. Sirih lamaran melambangkan penghormatan bagi pihak perempuan. Maket masjid merupakan pesan agar mempelai wanita tidak lupa akan kewajiban beribadah. Pesalinan terdiri dari pakaian wanita dan roti buaya. Sedangkan Petise adalah kotak yang berisi sayur mayur atau bahan mentah untuk pesta.

2.       Sepasang Buaya
Satu hal yang selalu dibawa seorang lelaki Betawi saat meminang seorang gadis adalah sepasang roti buaya. Tidak jarang, roti buaya dilengkapi dengan buaya kecil sebagai simbol anak kedua pengantin kelak. Bagi etnik Betawi, buaya adalah simbol kesetiaan dan pasangan yang abadi karena tidak berpoligami dan selalu mencari makan bersama-sama.

3.       Arak-arakan Pengantin
Layaknya raja, mempelai pria dikawal saat akan melakukan akad nikah. Keluarga mempelai pria datang dengan rombongan yang membawa seserahan untuk mempelai wanita. Rombongan diiringi ondel-ondel, tanjidor, marawis, dan dua pemuda yang membawa kembang kelapa (lambang kemakmuran) di bagian depan. Rombongan mempelai pengantin pria ini disambut oleh petasan sebagai penanda akan diselenggarakannya suatu hajat besar.

4.       Buka Palang Pintu
Sebelum akad nikah dilangsungkan, mempelai pria harus melewati prosesi “buka palang pintu”. Utusan keluarga pria dan wanita saling berbalas pantun dan adu silat. Prosesi ini merupakan ujian bagi mempelai pria agar diterima menjadi calon suami mempelai wanita.

b.      Rumah Khas Etnik Betawi
Ada tiga area di setiap rumah tradisional etnik Betawi, yaitu: kawasan publik (ruang tamu atau amben), kawasan privat (ruang tengah dan kamar atau pangkeng), dan kawasan servis (dapur atau srondoyan). Dalam arsitektur Betawi ada hal yang penting bahkan bisa dikatakan sakral, yaitu Balaksuji. Balaksuji adalah konstruksi tangga yang banyak ditemukan pada jenis rumah panggung. Memasuki rumah lewat tangga berarti melakukan proses menuju kesucian.

1.        Rumah Joglo
Rumah yang memiliki atap yang menjulang ke atas dan tumpul seperti rumah joglo jawa. Terdapat serambi belakang untuk menerima tamu perempuan sedangkan serambi depan untuk menerima tamu laki-laki. Pada rumah joglo, pintu masuk terdapat di samping rumah.

2.       Rumah Kebaya
Rumah tipe kebaya memiliki beberapa pasang atap, bila dilihat dari samping berlipat-lipat seperti lipatan kebaya. Rumah ini melambangkan penduduk Jakarta yang terdiri atas berbagai suku bangsa.

3.       Rumah Panggung
Rumah panggung yang terbuat dari kayu adalah satu jenis rumah Etnik Betawi pada sekitar abad 15-16. Konsep rumah ini mirip dengan rumah adat Melayu, yang memiliki fungsi untuk menahan banjir yang sewaktu-waktu datang. Rumah panggung Etnik Betawi banyak ditemukan di daerah yang berawa atau di pesisir pantai Marunda.

4.       Rumah Bapang dan Gudang
Bentuk bangunan jenis rumah adalah segi empat polos dan sederhana. Perbedaan terletak pada bentuk atap rumah. Rumah Bapang berbentuk pelana tidak penuh dan lebar. Seangkan Rumah Gudang berbentuk pelana utuh.

c.        Busana Tradisional
Celana batik dipakai oleh kaum lelaki sedangkan bagi kaum perempuan, kebaya dan kain batik menjadi pakaian sehari-hari. Pada acara-acara resmi seperti perkawinan atau peringatan hari-hari besar, para lelaki umumnya memakai pakaian berjenis jas yang dilengkapi dengan liskol (penutup kepala) dan lockan (ban pinggang) yang terbuat dari bahan batik. Sedangkan para perempuan tetap memakai baju kebaya, selendang panjang yang menutup kepala, serta kain batik. Biasanya dilengkapi dengan peniti rante dan ikat pinggang dari bahan emas atau perak. Gelang listering, serta cincin yang berbentuk belah ketupat merupakan hiasan yang sering dipakai kaum perempuan Etnik Betawi bila harus menghadiri satu acara perkawinan.



d.      Kuliner
Etnik Betawi memiliki aneka jenis makanan tradisional dengan cita rasa yang khas. Di antaranya yaitu: gado-gado, sayur babanci (sayur 1000 bumbu), kerak telor, geplak, serta minuman tradisional bir pletok.

e.       Boneka Maskot Betawi
Satu kesenian rakyat Betawi yang akhirnya menjadi “maskot” kota Jakarta adalah ondel-ondel. Menurut para ahli, boneka raksasa berangka bambu setinggi 2,5 meter ini sudah ada sejak berabad-abad lalu. Dahulu, ondel-ondel dibuat untuk keperluan upacara dan dipercaya memiliki kekuatan gaib yang akan menjaga keselamatan kampung beserta isinya. Upacara bersih desa atau sedekah bumi selalu menampilkan ondel-ondel. Seiring dengan perkembangan zaman, ondel-ondel pun mengalami perubahan fungsi sebagai pemeriah suasana arak-arakan penganten sunat, perkawinan, peresmian, pawai dan tentunya “maskot” DKI Jakarta.

f.        Seni Budaya
Sejak awal, Etnik Betawi sudah sangat heterogen, demikian juga dengan kesenian Betawi yang lahir dari perpaduan berbagai suku bangsa. Dalam bidang seni musik, Betawi mendapat pengaruh Barat, Tionghoa (Cina), Arab, Melayu, Sunda, dan lain-lain. Meskipun terdapat pengaruh budaya luar, warna musik yang dihasilkan atau dimainkan tetap khas budaya Betawi.

Selain seni musik, budaya Betawi juga memiliki seni tari seperti tari Samra, Cokek, Zapin dan Blenggo. Sedangkan teater Betawi adalah tontonan berlakon yang bersifat kerakyatan dan bersifat improvisatoris, diiringi musik rakyat Betawi. Teater rakyat Betawi adalah Lenong, Topeng Betawi, Tari Sambrah, dan Wayang Kulit Betawi. Selain itu ada Shahibul Hikayat dan Gambang Rancang yang dapat digolongkan ke dalam teater tutur.


Analisis : Budaya betawi adalah salah satu yang menjadi ciri khas terkuat di kota Jakarta, ada keunikan dari budaya betawi yang pastinya akan selalu melekat pada setiap individu. Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa. Dimana budaya betawi banyak mendapat pengaruh dari kebudayaan nusantara maupun asing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar